Mimbar Akademika Fakultas Hukum UISU : Riba dan Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam

Foto untuk : Mimbar Akademika Fakultas Hukum UISU : Riba dan Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam

Medan, 02 Maret 2019, Aula Fakultas Hukum UISU Medan, Pukul 08.30 Wib. Mimbar Akademika Fakultas Hukum UISU Medan dengan tema “ Riba dan Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam”. Pelaksanaan Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pembantu Dekan I,Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara sekaligus Sekretaris Program Studi mewakili Ketua Program Studi Fakultas Hukum UISU, Dosen Fakultas Hukum UISU dan diluar Fakultas Hukum UISU, Tenaga Pendidikan dan Mahasiswa serta beberapa tamu undangan dari Universitas yang berbeda.

Mimbar akademika dibuka langsung oleh Pembantu Dekan I yaitu Bapak  Jauhari Ginting,SH.,M.Hum

Tema “ Riba dan Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam”.” menjadi tema yang diangkat dalam pelaksanaan mimbar akademika kali ini sebagai tempat untuk menyampaikan aspirasi atau ide-ide khususnya oleh seorang dosen/akademisi ataupun seorang praktisi yang berkompeten dibidang hukum Islam dalam kaitannya dengan perbankan, riba dan bunga. Hakikat mimbar akademik adalah sebagai ruang yang bias dimanfaatkan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya ketika dibuka sesi diskusi ataupun tanya jawab dalam kegiatan mimbar akademik. Kebebasan mimbar akademik berlaku sebagai bagian dari kebebasan akademik yang memungkinkan dosen menyampaikan pikiran dan pendapat akademik dalam forum akademik yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan tinggi, sesuai dengan kaidah keilmuan, norma, dan nilai serta dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tema “ Riba dan Bunga Bank Dalam Perspektif Hukum Islam” dipaparkan oleh dua narasumber yang berkompeten dibidangnya yaitu :

  1. Bapak Dr.Drs.Mustamam,M.Ag sebagai akademisi
  2. Bapak Dr.Drs. Effendi Sadli,MA sebagai akademisi

Yang dipandu oleh Moderator Bapak Tajuddin Noor,SH.,M.Hum.,Sp.N

Narasumber pertama yaitu Bapak Dr.Drs.Mustamam,M.Ag dalam pemaparan materi menyebutkan bahwa riba merupakan 1 dari 7 dosa besar meliputi syirik, sihir, membunuh orang tanpa alasan yang sah, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri waktu pertempuran, menuduh zina wanita yang baik-baik.

Salah satu dosa yang akan mengantarkan seseorang ke dalam neraka adalah memakan riba. Allah SWT berfirman mengenai orang-orang yang melakukan dosa riba setelah ia mengetahui bahwa Allah melarangnya.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 275 menyebutkan yang artinya :

“siapa yang mengerjakannya lagi (makan riba), maka mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya,”.

Al-Qur’an Surah Ali-Imra ayat 130-131 menyebutkan yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya mendapatkan keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir,”

Menurut sebuah hadis yang sudah disepakati keasliannya, Nabi SAW menganggap riba sebagai satu dari tujuh dosa yang akan mencelakakan pelakunya ke dalam api neraka.

Dr.Drs.Mustamam,M.Ag menyebutkan dampak dan/atau akaibat dari praktek riba antara lain :

  1. Menyebabkan eksploatasi (pemerasan) oleh si kaya terhadap si miskin.
  2. Uang modal besar yang dikuasai si kaya tidak disalurkan ke dalam usaha-usaha yang produktif (pertanian, industri, dan lain sebagainya yang dapat menciptakan lapangan kerja banyak.
  3. Bisa menyebabkan kebangkrutan usaha dan pada gilirannya bisa mengakibatkan keretakan rumah tangga, jika sipeminjam itu tidak mampu mengembalikan pinjaman dan bunganya akan tetapi modal besar itu justru disalurkan dalam perkreditan berbunga yang belum produktif

Narasumber kedua yaitu Dr.Drs. Effendi Sadli,MA dalam pemaparan materi menyebutkan bahwa Riba terbagi ke dalam 2 (dua) bagian yaitu riba hutang piutang dan riba jual Beli yang tiap-tiap bagian memiliki jenis masing-masing.

Riba Hutang Piutang

  1. Riba Qord  القرض  ربا

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (Muqtaridh)

  1. Riba Jahiliyyah الجاهلية  ربا (Riba Nasi’ah)

Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan .

Riba Jual Beli

  1. Riba Fadhl   الفضل  ربا

Pertukaran antar barang-barang sejenis dengan    kadar/takaran yang berbeda.

  1. Riba Al-Yadh

Jual beli yang dilakukan seseorang sebelum menerima barang yang dibelinya dari sipenjual dan menjualnya lagi kepada orang lain.

Dalam konteks syariah (hukum Islam) memakan riba termasuk salah satu dosa besar. Namun pada praktiknya terjadi kebingungan oleh masyarakat atas adanya praktek riba khususnya yang terkait dengan transaksi perbankan. Riba secara bahasa bermakna tambahan yang disyaratkan yang diambil oleh orang yang mengutangi dari orang yang berutang, sebagai imbangan atas penundaan pembayaran utangnya. Secara lebih spesifik lagi riba adalah meminta tambahan uang dari pinjaman awal baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam yang bertentangan dengan prinsip syariah Islam.

 

E-learning
Siakad
E-Journal
Perpustakaan
Sistem Informasi Dosen
Tracert Study
PMB UISU
Flag Counter