Webinar Nasional : Informed Consent Dalam Perspektif Hukum

Foto untuk : Webinar Nasional : Informed Consent Dalam Perspektif Hukum

Reporter : Taufiq Ramadhan, S.H.,M.H

UISU, FH, Program Magister (S2) dan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) lakukan kerjasama pelaksanaan Webinar Nasional dengan tema “Informed Consent Dalam Perspektif Hukum” yang dilaksanakan pada hari selasa, 23 Februari 202 pada Pukul 09.00 sampai dengan selesai melalui aplikasi zoom meeting (23/02).

Webinar Nasional dihadiri oleh Dekan Fakultas Hukum UISU, Dr. Marzuki, S.H., M.Hum, Dekan Fakultas Kedokteran, dr. Indra Janis, MKT dan 200 (dua ratus) partisipan dari beberapa kota di Indonesia dan dari berbagai bidang/profesi serta beberapa narasumber yang berkompeten dan berpengalaman dibidangnya.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Hukum UISU, Dr.Marzuki, SH.,M.Hum menuturkan bahwa tujuan atas tema “Informed Consent Dalam Perspektif Hukum”  yang diangkat dalam webinar nasional kerjasama antara Program Magister (S2)  & Fakultas Kedokteran UISU adalah sebagai pemaparan yang memberikan wawasan dan informasi kepada masyarakat atas perlindungan hukum bagi Pasien dan dokter atas segala tindakan medis yang dilakukan, berikut tuturnya. Dekan Fakultas Kedokteran UISU, dr. Indra Janis, MKT juga menyampaikan opening speech-nya, bahwa dalam informed consent, “tanpa adanya persetujuan pasien, maka dokter tidak dapat berbuat apa-apa, oleh karenanya antara dokter dan pasien harus memiliki interaksi yang baik. Webinar ini sangat penting dilakukan sebagai wawasan dan sosialisasi di tengah-tengah masyarakat”, tuturnya.

Moderator webinar nasional adalah Dr. Panca Sarjana Putra, S.H., M.H (Dosen Fakultas Hukum UISU).

Narasumber dalam webinar nasional kerjasama Program Magister (S2) dan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) adalah :

  1. Prof. Dr. Sarsintorini, S.H., M.H (Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Semarang)
  2. dr. Suryani Eka Mustika, Sp. PA (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara)
  3. Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H (Kes) (Dosen Institut Kesehatan Helvetia)
  4. Dr. Ahmad Sofian, S.H., M.A (Dosen Fakultas Hukum Universitas Bina Nusantara)
  5. Adil Akhyar, SH., LLM., Ph.D (Dosen Program Pascasarjana (S2) Hukum Universitas Islam Sumatera Utara)

Prof. Dr. Sarsintorini, S.H., M.H yang merupakan Guru Besar di Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Semarang memaparkan bahwa Informed Consent erat kaitannya dengan etika biomedis yang menuntut seorang dokter untuk berbuat baik dan menghargai otonomi pasien dengan maksud menghargai hak-hak. Pasien. Beliau juga menyampaikan apabila terjadi suatu permasalahan antara dokter dan pasien, langkah yang paling baik untuk dilakukan adalah mediasi sebagaimana yang disampaikan dalam Pasal 29 UU No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Dalam konteks hak-hak pasien yang disampaikan oleh Guru Besar di Universitas 17 Agustus Semarang, Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H menuturkan bahwa hak-hak yang dimaksud adalah hak menerima ataupun hak untuk menolak segala kegiatan menis yang diberikan dan itu merupakan otonomi pasien.

Interaksi yang baik dalam informed consend juga disampaikan oleh dr. Suryani Eka Mustika, Sp. PA (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara) agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam kegiatan medis. Informasi  atau keterangan minimal, wajib disampaikan oleh Dokter ke Pasien tentang manfaat apa saja yang diberikan agar memberikan rasa aman kepada Pasien, tuturnya.

Berbeda dengan Dr. Ahmad Sofian, S.H., M.A, menurutnya segala kekeliruan, kesalahpahaman ataupun hal-hal yang disebabkan dalam kegiatan medis tidaklah serta merta harus menyalahkan tenaga medis karena apabila terjadi suatu permasalahan baik timbulnya cacat dan kematian maka harus dilihat terlebih dahulu suatu peristiwa ataupun hal-hal yang melatarbelakanginya. Oleh sebab itu minimal harus adanya pertimbangan dan tidak asal menyalahkan saja.

Dalam kajian hukum Islam, Adil Akhyar, SH., LLM., Ph.D sebagai Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara memamparkan bahwa nformed consent  adalah tindakan yang mulia dan luar biasa. Diharapkan pasien memahami resiko dan manfaat atas tindakan medis serta informasi yang disampaikan. Beliau juga menuturkan bahwa upaya yang dilakukan oleh tenaga media dalam melayani pasien adalah tindakan yang baik dan bermanfaat, “manusia yang baik adalah manusia yang memberikan manfaat bagi sesama.

E-learning
Siakad
E-Journal
Perpustakaan
Sistem Informasi Dosen
Tracert Study
PMB UISU
Flag Counter